Kamis, 26 Mei 2011

Siphonaptera Bagian 1

Siphonaptera adalah dikenal dengan nama umum pinjal adalah serangga-serangga kecil yang tidak bersayap, yang dewasa makan darah (ektoparasit) pada unggas (sekitar 6%) dan mamalia (sekitar 94% spesies). Mereka bersifat parasit sementara. Beberapa bertindak sebagai vektor penyakit, inang bagi cacing-cacing pita dan membuat lubang masuk kedalam tubuh inangnya. Tubuh dari serangga dewasa sangat gepeng disebelah lateral dan dilengkapi dengan banyak duri-duri yang mengarah ke belakang dan rambut-rambut keras, cetae atau ctenidia. Kebanyakan pinjal adalah serangga-serangga peloncat yang memiliki tungkai-tungkai yang panjang dengan koksa-koksa yang sangat besar (tungkai raptatorial). Antena pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala. Beberapa mempunyai inang sangat spesifik, tetapi beberapa dapat makan pada inang lain apabila inangnya tidak tersedia. Penyakit yang paling penting ditularkan oleh pinjal adalah pes, satu penyakit menular yang akut yang disebabkan oleh bacillus dan sering menyerang hewan pengerat. Juga sebagai vektor penyakit bubonis plaque atau black death dengan patogen bakteri Yersinia pestis. Pinjal juga merupakan inang dari dua jenis cacing yang kadang-kadang menginfestasi manusia.

Serangga ini penyebarannya sangat luas dan menyerang berbagai macam inang. Telur diletakkan pada saat inang makan dan segera jatuh pada sarang atau inangnya. Terdapat hampir 2.575 spesies di dunia dengan sekitar 100 di Eropa dan 60 atau lebih spesies di Inggris.. Semua spesies parasit dalam tahap dewasa memiliki mulut yang dirancang untuk menusuk dan mengisap, sisir dirancang hampir di seluruh tubuh mereka dan kaki, serta kaki dirancang untuk melompat. Tubuh mereka yang keras dan diratakan dari sisi ke sisi, membantu mereka bergerak di berbagai bulu hewan host termasuk babi, landak, rubah, anjing, manusia dan kucing. Memiliki ukuran 1.5 – 4 mm,,serangga betina memiliki ukuran yang lebih besar dari serangga jantan.Pada beberapa spesies memiliki ocular bristle (bulu mata) dengan letak yang berbeda-beda tergantung dari spesies,ada yang di depan mata dan ada pula yang teletak di bawah mata,ada yang mempunyai sisir atau ctenidium dan ada yang tidak dan bermetamorfosis sempurna (holometabola): telur-larva-pupa-dewasa. Bentuk pupa serangga terdapat di dalam cocon.

Berikut yang termasuk kedalam ordo Siphonaptera:

· Ctenocephalides canis (pinjal anjing)

· Ctenocephalides felis (pinjal kucing)

· Leptopsylla segnis (pinjal menjangan)

· Echidnophaga gallinacean (pinjal unggas)

· Nasopsyllus fasciatus (pinjal tikus)

· Pulex irritans (pinjal manusia)

· Xenopsylla cheopsis (pinjal tikus)

· Ceratopsylla gallinae (pinjal ayam petelur)

2.1 Morfologi, Klasifikasi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang ditularkan oleh Pulex irritans

Pulex irritans, disebut juga “human flea” atau pinjal orang. Pulex irritans dikenal sebagai pinjal pada beberapa hospes yaitu: babi, anjing, anjing liar dan sebagainya.

2.1.1 Morfologi

Tidak memiliki sayap, sebagian besar tidak bermata, bentuk tubuh yang pipih dorsoventral, bagian mulut disesuaikan untuk menusuk-isap atau untuk mengunyah, dan memiliki enam tungkai atau kaki yang kokoh dengan kuku yang besar pada ujung tarsus yang bersama dengan tonjolan tibia berguna untuk merayap dan memegangi bulu atau rambut inangnya. Tidak memiliki baik ktenidia genal dan pronatal ktenidia, dahinya membentuk kurva (membulat). Umumnya menginfestasi manusia, tetapi dapat menginfestasi, ayam, babi, anjing, kucing dan tikus.

2.2.2 Klasifikasi

Klasifikasi Pulex irritans adalah sebagai berikut :

· Golongan : Animalia

· Filum : Arthropoda

· Kelas : Insekta

· Ordo : Siphonaptera

· Family : Pulicidae

· Genus : Pulex

· Spesies : Pulex irritans

2.2.3 Siklus Hidup

Metamorfosis sempurna, pinjal dewasa dapat hidup 58 hari tanpa makan dan 234 hari bila dapat makan. Pinjal betina bertelur berukurannya kecil berbentuk ovoid, berwarna keputihan dengan panjang 0,5 mm berjumlah 3 – 18 butir setiap hari (sejumlah 448 selama hidupnya, biasanya diletakkan dicelah kandang atau tubuh hospes definitif (tetapi pada umumnya sebelum menetas akan jatuh. Dari dalam telur akan keluar larva berbentuk seperti cacing bergerak aktif untuk mencari makan berupa bahan-bahan organik atau darah yang mengering. Larva terdiri dari 14 segmen yang ditutupi oleh bulu-bulu. Larva akan mengalami ekdisis (menyilih) selama 3 kali dan pergantian kulit yang terakhir terjadi di dalam kokon. Didalam kokon yang biasanya tertutup oleh partikel kotoran, terbentuk pupa yang berwarna keputihan dan akhirnya terbentuk pinjal dewasa. Sampai terbentuknya kokon itu diperrlukan waktu 14-21 hari, lalu menjadi dewasa. Pinjal bisa hidup selama 1 – 2 tahun dan tahan hidup tanpa menghisap darah selama 6 minggu.

2.2.4 Habitat

Berbagai jenis hewan, termasuk manusia.

2.2.5 Penyakit yang Ditularkan

Pulex irritans, dapat menularkan penyakit “plague” dimana hospes yang paling disukai dari spesies ini adalah anjing yang peka terhadap “plague”, dan hal ini adalah penting dalam hubungannya dengan masalah Kesehatan masyarakat. Penyakit plague juga disebut penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri Yersiana pestis (dulu: Pasteurella pestis). Ada 3 type plague yaitu: “bubanic, Primary pneumonic dan primary septicemic”.

2.2 Morfologi, Klasifikasi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang ditularkan oleh Ctenocephalides canis

2.2.1 Morfologi

Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar, Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras, Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala, Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk, Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago), Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas, Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan,. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat dari struktur tubuhnya, yaitu jika jantan pada ujung posterior bentuknya seperti tombak yang mengarah ke atas dan antenna lebih panjang, sedangkan tubuh betina berakhir bulat dan antenna nya lebih pendek dari jantan. Kutu dewasa berwarna hitam kecoklatan, tapi tampak hitam kemerahan setelah makan darah. Kutu dewasa panjangnya 3-4mm. Memiliki baik ctenidia genal dan pronatal, memiliki mata, pada koksa kaki ke-2 (mesopleuron) ditemukan batang pleural (batang meral).

2.2.2 Klasifikasi

Klasifikasi Ctenocephalides canis adalah sebagai berikut :

· Golongan : Animalia

· Filum : Arthropoda

· Kelas : Insekta

· Ordo : Siphonaptera

· Family : Pulicidae

· Genus : Ctenocephalides

· Spesies : Ctenocephalides canis

2.2.3 Siklus Hidup

Ada empat tahap utama dari siklus hidup kutu: telur, larva, pupa dan dewasa. Dibutuhkan sekitar 30 sampai 40 hari untuk kutu anjing dalam mengerami telur menjadi telur yang sempurna,meskipun ada beberapa kasus yang menunjukkan siklus ini berlangsung selama satu tahun.


Kutu betina mulai bertelur dalam waktu 2 hari makan darah pertamanya. Telur yang putih dan kecil (0.5mm) tetapi yang terlihat dengan mata telanjang. Telur diletakkan pada rambut, bulu atau dalam habitat
hospesnya, mereka kemudian jatuh ke tempat-tempat seperti tempat tidur, karpet atau perabot. Beberapa kutu meletakkan 3-18 telur sekaligus di dalam tubuh anjing tersebut,hal ini berpotensi memperbanyak telur hingga 500 telur selama beberapa bulan. Telur menetas dalam 1-12 hari setelah disimpan kemudian memproduksi larva seperti cacing yang tidak memiliki kaki dan tidak ada mata.


Larva berwarna putih dan 1,5-5mm panjang dengan pelindung dari bulu tipis. Mereka jarang tinggal di tubuh inang mereka, kemudian mereka segera mencari daerah tertutup seperti tempat tidur hewan peliharaan , serat karpet dan retakan pada lantai di mana mereka mencari makanan sementara menghindari cahaya. Larva memakan berbagai bahan organik termasuk kulit-kulit yang terjatuh, kotoran hewan dan kotoran dewasa (terdiri dari darah ). Larva memungkinkan untuk mengganti kulit mereka untuk tumbuh dan berubah menjadi kepompong sutra selama 5-15 hari. Sisa larva sebagai pre-pupa selama 3 hari sebelum molting lagi untuk membentuk pupa.


Pupa mengembangkan dalam kokon dari lima hari sampai lima minggu. Dalam kondisi normal, bentuk dewasa siap untuk muncul setelah kira-kira 2 minggu tetapi pada temperatur yang lebih tinggi perubahan akan lebih cepat. Mereka kadang-kadang tetap tinggal di kokon sampai getaran atau kebisingan dirasakan (yang mengindikasikan keberadaan manusia atau binatang) yang berarti - karena tidak ada gerakan bentuk dewasa dapat tinggal di kokon sampai dengan 6 bulan.


Kutu dewasa, tidak bersayap, ukuran 2-8mm panjang dan lateral dikompresi. Mereka tercakup dalam bulu dan sisir yang membantu mereka untuk menempel pada host dan memiliki antena yang dapat mendeteksi dihembuskannya karbon dioksida dari hewan. Antena mereka juga sensitif terhadap panas, getaran, bayangan dan perubahan arus udara. Semua kutu bergantung pada darah untuk nutrisi mereka tetapi mampu hidup dalam waktu yang lama tanpa makan, biasanya sekitar 2 bulan. Dalam kondisi yang menguntungkan dan disertai dengan sumber t makanan (darah) yang memadai, kutu dapat hidup sampai satu tahun.

2.2.4 Habitat

Kutu selalu ditemukan dekat host, baik dalam kontak langsung seperti di antara bulu atau rambut atau dalam sarang mereka.

2.2.5 Penyakit yang Ditularkan

Ctenocephalides canis dan C. felis berperan sebagai inang antara cacing pita Dipylidium caninum dan Hymenolepis diminuta. Pinjal C. canis dan C. felis juga merupakan inang antara cacing filaria Dipetalonema reconditum juga sebagai vektor penyakit rickettsial, termasuk Rickettsia typhi.

2.3 Persamaan dan Perbedaan Ctenocephalides felis dan Ctenocephalide canis

2.3.1 Perbedaan

Ctenocephalides felis

Ctenocephalides canis

Morfologi

Memiliki karakteristik kepala lebih memanjang dan tibiae belakang dengan enam takik bantalan setae (tidak memiliki gigi apikal luar).

karakteristik dahi miring atau berbentuk kurva datar dan Spina I pada genal ktenidia hampir sama panjang dengan spina II.

Menginfestasi kucing dan

Ctenocephalides felis lebih tersebar luas, selain itu dapat juga menggigit sapi dan manusia

Memiliki karakteristik kepala dengan anterior kuat-bulat, dan memiliki tibiae belakang dengan delapan takik bantalan setae.

karakteristik dahi melengkung dan spina I pada genal ktenidia jauh lebih pendek dibandingkan spina II.

menginfestasi anjing

2.3.2 Persamaan

Kedua spesies memiliki sisir pronotal dan genal (ctenidia). Ctenocephalides sp adalah penting dalam medis sebagai vektor penyakit rickettsia, termasuk Rickettsia typhi, dan dapat berfungsi sebagai host intermediate cacing pita, termasuk Hymenolepis dan Dipylidium.

Minggu, 15 Mei 2011

Jenis Nyamuk

Jenis-Jenis Nyamuk

Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antena dan mata facet. Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap. Metamorfosanya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui telur —> larva —> kepompong —> dewasa.

Ciri-ciri ordo diptera adalah memiliki satu pasang sayap depan dan sayap belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan), mengalami metamorfosis sempurna, tipe mulut menusuk dan menghisap serta menjilat, dan memiliki tubuh ramping. Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka nyamuk termasuk ordo diptera. Berikut penjelasan mengenai nyamuk.

2.1 Morfologi, Klasifikasi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang ditularkan oleh Nyamuk Aedes sp.

2.1.1 Morfologi

Nyamuk Aedes merupakan sejenis nyamuk yang biasanya ditemui di kawasan tropis. Namanya diperoleh dari perkataan Yunani aēdēs, yang berarti "tidak menyenangkan", karena nyamuk ini menyebarkan beberapa penyakit berbahaya seperti demam berdarah dan demam kuning.Aedes yang berperan sebagai vector penyakit semuanya tergolong stegomya dengan ciri-ciri tubuh bercorak belang hitam putih pada dada, perut, tungkai. Corak ini merupakan sisi yang menempel di luar tubuh nyamuk. Corak putih pada dorsal dada (punggung) nyamuk berbentuk seperti siku yang berhadapan.

2.1.2 Klasifikasi

Klasifikasi Aedes sp adalah sebagai berikut:

Golongan : Animalia

Filum : Arthropoda

Klas : Insekta

Ordo : Diptera

Familly : Culicidae

Genus : Aedes

2.1.3 Siklus Hidup

Aedes seperti juga serangga lainnya yang termasuk ordo diptera, mengalami metamorfosis lengkap. Stadium-stadiumnya terdiri dari telur, larva (Jentik), pupa (kepompong) dan nyamuk dewasa. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan dari telur menjadi dewasa di laboratorium yang bersuhu 270C dankelembaban udaranya 80%, kurang lebih 10 hari. Waktu 10 hari tersebut juga diperkirakan untuk keperluan pertumbuhan Ae.aegypti dari telur sampai dewasadi alam bebas.

Adapun stadium telur, larva, pupa sampai menjadi nyamuk dewasa adalah sebagai berikut :

a. Telur

Telur Aedes berukuran kecil (± 50 mikron), berwarna hitam, sepintas lalu, tampak bulat panjang dan berbentuk jorong (oval) menyerupai torpedo. dibawah mikroskop, pada dinding luar (exochorion) telur nyamuk ini, tampak adanya garis-garis yang membentuk gambaran menyerupai sarang lebah. Di alam bebas telur nyamuk ini diletakan satu per satu menempel pada dinding wadah / tempat perindukan terlihat sedikit diatas permukaan air. Di dalam laboratorium, terlihat jelas telur telur ini diletakan menempel pada kertas saring yang tidak terendam air sampai batas setinggi 2-4 cm diatas permukaan air. Di dalam laboratorium telur menetas dalam waktu 1-2 hari, sedangkan di alam bebas untuk penetasan telur diperlukan waktu yang kurang lebih sama atau dapat lebih lama bergantung pada keadaan yang mempengaruhi air di wadah/ tempat perindukan. Apabila wadah air yang berisi telur mengering, telur bisa tahan selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Ketika wadah air itu berisi air lagi dan menutupiseluruh bagian telur , telur itu akan menetas menjadi jentik.

b. Larva

Setelah telur menetas tumbuh menjadi larva yang disebut larva stadium I (instar I). Kemudian larva stadium I ini melakukan 3 kali pengelupasan kulit (ecdysis atau moulting)., berturut-turut menjadi larva stadium 2,3 dan larva stadium 4. larva stadium akhir ini lalu melakukan pengelupasan kulit dan berubah bentuk menjadi stadium pupa. Larva stadium 4 berukuran 7 X 4 mm, mempunyai pelana yang terbuka , bulu sifon satu pasang dan gigi sisir yang berduri lateral. Dalam air di wadah, larva Aedes bergerak sangat lincah dan aktif,dengan memperlihatkan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan turun ke dasar wadah secara berulang-ulang. Larva Ae.aegypti dapat hidup di wadah yang mengandung air ber pH 5,8 – 8,6. Jentik dalam kondisi yang sesuai akan berkembang dalam waktu 6-8 hari dan kemudian berubah menjadi pupa (kepompong).

c. Pupa

Pupa nyamuk berbentuk seperti koma. Kepala dan dadanya bersatu

dilengkapi sepasang terompet pernapasan. Stadium pupa ini adalah stadium tak makan. Jika terganggu dia akan bergerak naik turun di dalam wadah air. Dalam waktu lebih kurang dua hari, dari pupa akan muncul nyamuk dewasa. Jadi, total siklus dapat diselesaikan dalam waktu 9-12 hari.

d. Nyamuk dewasa

Nyamuk setelah muncul dari kepompong akan mencari pasangan untuk mengadakan perkawinan. Setelah kawin, nyamuk siap mencari darah untuk perkembangan telur demi keturunannya. Nyamuk jantan setelah kawin akan istirahat, dia tidak menghisap darah tetapi cairan tumbuhan sedangkan nyamuk betina menggigit dan menghisap darah orang.

2.1.4 Habitat

o Aedes aegypti

Ae. aegypti merupakan spesies nyamuk yang hidup dan ditemukan di negara-negara yang terletak antara 350 Lintang Utara dan 350 Lintang Selatan pada temperatur udara paling rendah sekitar 100 C. Pada musim panas, spesies ini kadang-kadang ditemukan di daerah yang terletak sampai sekitar 450 Lintang Selatan. Selain itu ketahanan spesies ini juga tergantung pada ketinggian daerah yang bersangkutan dari permukaan laut. Biasanya spesies ini tidak ditemukan di daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Dengan ciri highly anthropophilic dan kebiasaan hidup di dekat manusia. Ae. Aegypti dewasa menyukai tempat gelap yang tersembunyi di dalam rumah sebagai tempat beristirahatnya, nyamuk ini merupakan vektor efisien bagi arbovirus. Ae.Aegypti juga mempunyai kebiasaan mencari makan (menggigit manusia untuk dihisap darahnya) sepanjang hari terutama antara jam 08.00-13.00 dan antara jam 15.00-17.00. Sebagai nyamuk domestik di daerah urban, nyamuk ini merupakan vektor utama (95%) bagi penyebaran penyakit DBD. Jarak terbangspontan nyamuk betina jenis ini terbatas sekitar 30-50 meter per hari. Jarak terbang jauh biasanya terjadi secara pasif melalui semua jenis kendaraan termasuk kereta api, kapal laut dan pesawat udara. Nyamuk Ae. aegypti hidup dan berkembang biak pada tempat – tempat penampungan air bersih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti bak mandi, tempayan, kaleng bekas, tempat minum burung dan lain sebagainya.Umur nyamuk Ae. aegypti berkisar 2 minggu sampai 3 bulan atau rata – rata 1,5 bulan tergantung dari suhu, kelembaban sekitarnya. Kepadatan nyamuk akan meningkat pada waktu musim hujan dimana terdapat genangan air bersih yang dapat menjadi tempat untuk berkembang biak. Selain nyamuk Ae. aegypti, penyakit demam berdarah juga dapat ditularkan oleh nyamuk Ae. albopictus.Tetapi peranan nyamuk ini dalam menyebarkan penyakit demam berdarah kurang jika dibandingkan nyamuk Ae. aegypti. Ae. aegypti suka beristirahat di tempat yang gelap, lembab, dan tersembunyi di dalam rumah atau bangunan termasuk di kamar tidur, kamar mandi, kamar kecil maupun dapur. Di dalam ruangan, nyamuk suka beristirahat pada benda – benda yang tergantung seperti pakaian, kelambu, gordyn di kamar yang gelap dan lembab. Pada umumnya Ae. aegypti lebih menyukai tempat perindukan berupa air bersih tetapi dari hasil studi oleh beberapa peneliti menguatkan bahwa telur nyamuk lebih banyak pada ovitrap dengan rendaman jerami dari pada dengan air bersih biasa. Penelitian Karen A Polson menyebutkan adanya perbedaan jumlah telur pada ovitrap menggunakan 10% air rendaman jerami dengan ovitrap yang menggunakan air biasa. Jumlah telur yang dihasilakan lebih banyak pada 10% air rendaman jerami dari pada menggunakan air biasa.

o Aedes albopictus

Ae. albopictus termasuk dalam subgenus yang sama dengan Ae. Aegyti (Stegomyia). Spesies ini tersebar luas di Asia dan negara beriklim tropis sampai yang beriklim subtropis. Selama dua dekade terakhir, spesies ini telah melebarkan sayapnya sampai ke Amerika Selatan dan Utara, Karibia, Afrika, Eropa Utara dan beberapa kepulauan Pasifik. Ae. albopictus mempunyai kebiasaan bertelur di luar rumah terutama di hutan bambu. Nyamuk ini akan menggigit sepanjang hari, mulai dari pagi hari sampai sore hari. Bahkan sanggup menghisap darah sampai beberapa kali. Ae. albopictus merupakan nyamuk kebun (forest mosquito) yang memperoleh makanan dengan cara menggigit dan menghisap darah berbagai jenis binatang, berkembangbiak di dalam lubang – lubang pohon, lekukan tanaman, potongan batang bambu dan buah kelapa yang terbuka. Larva atau bentuk imatur nyamuk jenis ini mempunyai habitat hidup dalam genangan air dalam kaleng, tempat penampungan lain termasuk timbunan sampah di udara terbuka. Habitat larva yang semacam ini menyebabkan spesies ini banyak dijumpai di daerah pedesaan, pinggiran kota dan taman – taman kota.

Ae. albopictus pada dasarnya adalah spesies hutan yang beradaptasi

dengan lingkungan manusia di pedesaan, pinggiran kota dan perkotaan. Nyamuk bertelur dan berkembang di lubang pohon, ruas bambu, dan pangkal daun sebagai habitat hutannya, serta penampung buatan di daerah perkotaan. Nyamuk ini merupakan penghisap darah yang acak dan lebih zoofilik (memilih hewan) daripada Ae. aegypti. Jarak terbangnya bisa mencapai 500 meter. Tidak seperti Ae. aegypti, beberapa strain dari spesies ini berhasil beradaptasi dengan cuaca dingin di wilayah Asia Utara dan Amerika, saat telurnya menghabiskan musim dingin dengan beristirahat.

Dalam musim penghujan relative tersedia lebih banyak tempat yang cocok bagi habitat Ae. albopictus. Itulah sebabnya jumlah populasi Ae. Albopictus sangat erat kaitannya dengan musim penghujan. Dalam bentuk dewasa spesies ini juga mempunyai kebiasaan mencari makan pada siang hari. Jarak terbang nyamuk dewasa betina jenis ini berkisar antara 400 – 600 meter. Kesempatan berpindah tempat secara pasif bagi Ae. albopictus lebih terbatas sebab spesies ini hidup di luar rumah. Namun di sisi lain, kebiasaan mencari makan Ae. Albopictus memungkinkan spesies ini mentransmisikan virus Dengue dari kera ke manusia dan sebaliknya. Di beberapa wilayah Asia, Ae. albopictus terkadang diduga sebagai vektor epidemi DBD walaupun tidak sepenting Ae. aegypti. Di laboratorium, kedua spesies nyamuk tersebut dapat menularkan virus Dengue secara vertical melalui nyamuk betina ke telur sampai keturunannya walaupun Ae albopictus lebih cepat melakukannya.

2.1.5 Penyakit yang ditularkan

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular

yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak dan serta menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah. Penyakit ini ditularkan orang yang dalam darahnya terdapat virus Dengue. Orang ini biasanya menunjukan gejala sakit tetapi juga tidak sakit yaitu jika mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus Dengue. Jika orang digigit nyamuk Ae. aegypti maka virus akan masuk bersama darah yang dihisapnya. Di dalam tubuh nyamuk itu, virus Dengue akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar di seluruh bagian tubuh nyamuk. Dalam waktu satu minggu jumlahnya dapat mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu sehingga

siap untuk ditularkan atau dipindahkan kepada orang lain. Selanjutnya pada waktu nyamuk menggigit orang lain, maka setelah alat tusuk nyamuk (proboscis) menemukan kapiler darah, sebelum darah orang tersebut dihisap terlebih dahulu dikeluarkan air liur dari kelenjar air liur nyamuk agar darah yang dihisap tidak membeku.

Bersama dengan air liur nyamuk Ae. aegypti yang membawa virus Dengue itu akan terserang penyakit demam berdarah, orang yang mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus Dengue, tidak akan terserang penyakit ini, meskipun di dalam darahnya terdapat virus tersebut. Sebaliknya pada orang yang tidak mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus Dengue, dia akan sakit demam ringan bahkan sakit berat yaitu demam tinggi disertai perdarahan bahkan syok, tergantung dari tingkat kekebalan tubuh yang dimilikinya. Hingga sekarang telah dapat diisolasi 4 serotipe virus Dengue di Indonesia yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. ternyata DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotipe yang paling banyak sebagai penyebab. Nimmannitya (1975) di Thailand melaporakan bahwa serotipe DEN-2 yang dominan sedangakan di Indonesia terutama oleh DEN-3 walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi oleh virus DEN-2.

2.2 Morfologi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang ditularkan oleh Nyamuk Anopheles sp.

2.2.1 Morfologi

Nyamuk Anopheles sp adalah adalah nyamuk vektor penyakit malaria. Nyamuk Anopheles memiliki tubuh yang langsing dan 6 kaki panjang dan memiliki sayap yang bersisik.

2.2.2 Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Order : Diptera

Family : Anophelinae

Genus : Anopheles

2.2.3 Siklus hidup nyamuk Anopheles

Nyamuk Anopheles mempunyai siklus hidup , yang termasuk dalam metamorfosa sempurna. Yang berarti dalam siklus hidupnya terdapat stage/fase pupa. Lama siklus hidup dipengaruhi kondisi lingkungan, misal : suhu, adanya zat kimia/biologisdi tempat hidup. Siklus hidup nyamuk Anopheles secara umum adalah

a. Telur

Setiap bertelur setiap nyamuk dewasa mampu menghasilkan 50-200 buah telur. Telur langsung diletakkan di air dan terpisah (tidak bergabung menjadi satu). Telur ini menetas dalam 2-3 hari (pada daerah beriklim dingin bisa menetas dalam 2-3 minggu)

b. Larva

Larva terbagi dalam 4 instar , dan salah satu ciri khas yang membedakan dengan larva nyamuk yang lain adalah posisi larva saat istirahat adalah sejajar di dengan permukaan perairan, karena mereka tidak mempunyai siphon (alat bantu pernafasan). Lama hidup kurang lebih 7 hari, dan hidup dengan memakan algae,bakteri dan mikroorganisme lainnyayang terdapat dipermukaan

c. Pupa(kepompong)
Bentuk fase pupa adalah seperti koma, dan setelah beberapa hari pada bagian dorsal terbelah sebagai tempat keluar nyamuk dewasa.
d.Dewasa
Nyamuk dewasa mempunyai proboscis yang berfungsi untuk menghisap darah atau makanan lainnya (misal, nektar atau cairan lainnya sebagai sumber gula). Nyamuk jantan bisa hidup sampai dengan seminggu, sedangkan nyamuk betina bisa mencapai sebulan. Perkawinan terjadi setelah beberapa hari setelah menetas dan kebanyakan perkawinan terjadi disekitar rawa (breeding place). Untuk membantu pematangan telur, nyamuk menghisap darah, dan beristirahat sebelum bertelur. Salah satu ciri khas dari nyamuk anopheles adalah pada saat posisi istirahat menungging

2.2.4 Habitat

Anopheles sp mempunyai habitat pada tempat-tempat air yang tidak mengalir, air yang tenang atau sedikit mengalir seperti sawah, di air payau, di tempat yang terlindung matahari dan ada juga yang mendapat sinar matahri langsung.

2.2.5 Penyakit yang ditularkan

Nyamuk Anopheles sp adalah adalah nyamuk vektor penyakit malaria. Penularan malaria secara ilmiah berlangsung melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Hanya spesies nyamuk Anopheles tertentu yang mampu menularkan penyakit malaria dan spesies tersebut disebut sebagai vektor. Lebih dari 400 spesies Anopheles didunia, hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi vektor malaria.

Malaria merupakan penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali. Sampai sekarang dikenal 4 jenis plasmodium, yaitu :

1. plasmodium falciparum sebagai penyebab Malaria Tropika.

2. plasmodium vivaks sebagai penyebab penyakit Malaria Tertiana.

3. plasmodium malariae sebagai penyebab penyakit Malaria Quartana.

4. plasmodium ovale yang menyebabkan penyakit Malaria yang

hampir serupa dengan Malaria Tertiana. Dalam daur hidupnya Plasmodium mempunyai 2 hospes, yaitu vertebrata dan nyamuk. Siklus aseksual didalam hospes vertebrata dikenal sebagai skizogoni dan siklus seksual yang terbentuk sporozoit disebut sebagai sporogoni.

2.3 Morfologi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang ditularkan oleh Nyamuk Culex sp.

2.3.1 Morfologi

Culex sp adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit yang penting seperti West Nile Virus, Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis encephalitis.[8] Nyamuk dewasa dapat berukuran 4 – 10 mm (0,16 – 0,4 inci). Dan dalam morfologinya nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum: kepala, dada, dan perut. Nyamuk Culex yang banyak di temukan di Indonesia yaitu jenis Culex quinquefasciatus.

2.3.2 Klasifikasi

Klasifikasi Culex adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda,

Class : Insecta,

Ordo : Diptera,

Family : Culicidae

Genus : Culex

2.3.3 Siklus Hidup

a. Telur

Seekor nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur. Setiap spesies nyamuk mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp meletakan telurnya diatas permukaan air secara bergelombolan dan bersatu membentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung.

b.Larva

Setelah kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperature, tempat perindukan dan ada tidaknya hewan predator. Pada kondisi optimum waktu yang dibutuhkan mulai dari penetasan sampai dewasa kurang lebih 5 hari.

c. Pupa

Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari. Pada fase ini nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama fase ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air.

d. Dewasa

Setelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan kawin dan nyamuk betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah waktu 24-36 jam. Darah merupakan sumber protein yang esensial untuk mematangkan telur.[8] Perkembangan telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari.

2.3.4 Habitat

Nyamuk dewasa merupakan ukuran paling tepat untuk memprediksi potensi penularan arbovirus. Larva dapat di temukan dalam air yang mengandung tinggi pencemaran organik dan dekat dengan tempat tinggal manusia. Betina siap memasuki rumah-rumah di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia lain.

2.3.5 Penyakit yang ditularkan

Culex sp adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit yang penting seperti West Nile Virus, Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis encephalitis.

Sabtu, 14 Mei 2011

Listeria monocytogenes

Listeria monocytogenes

Karakteristik umum

Bakteri ini merupakan bakteri Gram-positif, dan motil/bergerak dengan menggunakan flagella. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 1-10% manusia mungkin memiliki L. monocytogenes di dalam ususnya. Bakteri ini telah ditemukan pada setidaknya 37 spesies mamalia, baik hewan piaraan maupun hewan liar, serta pada setidaknya 17 spesies burung, dan mungkin pada beberapa spesies ikan dan kerang. Bakteri ini dapat diisolasi dari tanah, silage (pakan ternak yang dibuat dari daun-daunan hijau yang diawetkan dengan fermentasi), dan sumber-sumber alami lainnya. Sebagai bakteri yang tidak membentuk spora, L. monocytogenes sangat kuat dan tahan terhadap efek mematikan dari pembekuan, pengeringan, dan pemanasan. Sebagian besar L. monocytogenes bersifat patogen pada tingkat tertentu.

Gejala-gejala penyakit

Listeriosis merupakan nama penyakit yang disebabkan oleh L. monocytogenes .

Secara klinis, suatu penyakit disebut listeriosis apabila L. monocytogenes diisolasi dari darah, cairan cerebrospinal (cairan otak dan sumsum tulang belakang), atau dari tempat lain yang seharusnya steril (misalnya plasenta, janin).

Gejala listeriosis termasuk septicemia (infeksi pada aliran darah), meningitis (radang selaput otak) atau meningoencephalitis (radang pada otak dan selaputnya), encephalitis (radang otak), dan infeksi pada kandungan atau pada leher rahim pada wanita hamil, yang dapat berakibat keguguran spontan (trimester kedua/ketiga) atau bayi lahir dalam keadaan meninggal. Kondisi di atas biasanya diawali dengan gejala-gejala seperti influenza, antara lain demam berkepanjangan. Dilaporkan bahwa gejala-gejala pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, dan diare dapat merupakan bentuk awal dari listeriosis yang lebih parah, namun mungkin juga hanya gejala itu yang terjadi. Secara epidemiologi, gejala pada saluran pencernaan berkaitan dengan penggunaan antasida atau cimetidine (antasida dan cimetidine merupakan obat-obatan yang berfungsi menetralkan atau mengurangi produksi asam lambung). Waktu mulai timbulnya gejala listeriosis yang lebih parah tidak diketahui, tetapi mungkin berkisar dari beberapa hari sampai tiga minggu. Awal munculnya gejala pada saluran pencernaan tidak diketahui, tetapi mungkin lebih dari 12 hari.

Dosis infektif L. monocytogenes tidak diketahui, tetapi diyakini bervariasi menurut strain dan kerentanan korban. Dari kasus yang disebabkan oleh susu mentah atau susu yang proses pasteurisasinya kurang benar, diduga kurang dari 1000 organisme dapat menyebabkan penyakit pada orang-orang yang rentan. L. monocytogenes dapat menyerang epithelium (permukaan dinding) saluran pencernaan. Sekali bakteri ini memasuki sel darah putih (tipe monocyte , macrophage , atau polymorphonuclear ) dalam tubuh korbannya, bakteri ini masuk ke aliran darah (septicemia) dan dapat berkembang biak. Keberadaannya di dalam sel fagosit memungkinkannya memasuki otak, dan pada wanita hamil, mungkin masuk ke janin melalui plasenta. Sifat patogenik L. monocytogenes berpusat pada kemampuannya untuk bertahan dan berkembang biak di dalam sel fagosit korbannya.

Diagnosis

Listeriosis hanya dapat didiagnosis secara pasti dengan cara membiakkan organisme ini dari darah, cairan cerebrospinal (cairan otak dan sumsum tulang belakang), atau kotoran (walaupun untuk kotoran, sulit dilakukan dan terbatas kegunaannya)

Makanan terkait

L. monocytogenes dikaitkan dengan makanan seperti susu mentah, susu yang proses pasteurisasinya kurang benar, keju (terutama jenis keju yang dimatangkan secara lunak), es krim, sayuran mentah, sosis dari daging mentah yang difermentasi, daging unggas mentah dan yang sudah dimasak, semua jenis daging mentah, dan ikan mentah atau ikan asap. Kemampuannya untuk tumbuh pada temperatur rendah hingga 3°C memungkinkan bakteri ini berkembang biak dalam makanan yang disimpan di lemari pendingin.

Pencegahan

Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan, namun makanan yang dimasak, dipanaskan dan disimpan dengan benar umumnya aman dikonsumsi karena bakteri ini terbunuh pada temperatur 75°C. Resiko paling besar adalah kontaminasi silang, yakni apabila makanan yang sudah dimasak bersentuhan dengan bahan mentah atau peralatan (misalnya alas pemotong) yang terkontaminasi.

Populasi rentan

Populasi yang rentan pada listeriosis yaitu:

  • wanita hamil/janin – infeksi perinatal (sesaat sebelum dan sesudah kelahiran) dan neonatal (segera setelah kelahiran);
  • orang yang system kekebalannya lemah karena perawatan dengan corticosteroid (salah satu jenis hormon), obat-obat anti kanker, graft suppression therapy (perawatan setelah pencangkokan bagian tubuh, dengan obat-obat yang menekan sistem kekebalan tubuh), AIDS;
  • pasien kanker – terutama pasien leukemia;
  • lebih jarang dilaporkan – pada pasien penderita diabetes, pengecilan hati ( cirrhotic ), asma, dan radang kronis pada usus besar ( ulcerative colitis );
  • orang-orang tua;
  • orang normal—beberapa laporan menunjukkan bahwa orang normal yang sehat dapat menjadi rentan, walaupun penggunaan antasida atau cimetidine mungkin berpengaruh. Kasus listeriosis yang pernah terjadi di Swiss, yang melibatkan keju, menunjukkan bahwa orang sehat dapat terserang penyakit ini, terutama bila makanan terkontaminasi organisme ini dalam jumlah besar.